aktuil 2
Kadang - kadang saya berpikir, kalau saja Aktuil bisa bertahan sampai sekarang, mungkin kita akan punya majalah musik sekelas Rolling Stone yang tulisan-tulisan musiknya benar-benar diperhatikan music lovers. Tapi itu hanya sebuah andai-andai yang belum pasti. Kenyataannya, majalah itu tidak mampu mengikuti perkembangan jaman. Sebagai sebuah majalah yang mengejar anak muda sebagai target pembacanya, Aktuil tidak bisa awet muda.
Majalah musik lain yang terbit sesudah era Aktuil pun lantas mengalami nasib yang sama. Era '80-an, pernah terbit Mitra Musik, Bacaannya Orang Musik, Forum Musika, serta Diskotek Musik. Di tahun '90, tabloid Citra Musik sempat terbit selama hampir satu tahun sebelum kemudian akhirnya berubah jadi Citra-tabloid hiburan. Tabloid Dangdut yang terbit di tahun '95 pun lantas berubah jadi Aura-tabloid perempuan. Bahkan MUMU, NewsMusik, dan ROCK pun harus ditelan sejarah.
Ternyata, apapun majalahnya, kapanpun terbitnya, siapapun pengelolanya, majalah musik selalu berhadapan dengan persoalan yang sama. Pertama, uang. Konser Deep Purple pada 5-6 Desember 1976 yang digelar Aktuil pun dituduh jadi salah satu penyebab matinya majalah itu. Pintu Stadion Utama Senayan yang jebol di hari kedua konser membuat panitia rugi besar.
Citra Musik dan Tabloid Dangdut dipaksa berubah format oleh penanam modalnya karena dinilai kurang mendatangkan uang. Bens Leo dari NewsMusik mengatakan kalau Maxi Gunawan--pemilik NewsMusik--tidak konsisten soal penyediaan uang untuk penerbitan. MUMU dan ROCK juga kurang lebih mengalami nasib yang sama: ditinggal investor.
Persoalan kedua yang juga tidak kalah pentingnya adalah isi. Orang membeli majalah tentu saja ingin membaca isinya. Karena isinya sudah dianggap tak menarik lagi, Aktuil perlahan ditinggal pembaca. NewsMusik, MUMU, dan ROCK tidak bisa memuaskan pihak perusahaan dari segi penjualan karena isinya tidak bisa menarik bagi banyak orang.
Bicara soal isi majalah, ini kemudian membawa kita menuju pada persoalan berikutnya: wartawan musik serta apresiasi musik masyarakat. Untuk menghasilkan tulisan musik yang berkualitas, tentu saja dibutuhkan seorang wartawan yang benar-benar tahu dan menghayati apa yang ditulisnya. Aktuil sebenarnya sudah sangat ideal untuk urusan ini. Selain Remy Sylado dan Denny Sabri, nama-nama lain yang memperkuat majalah itu sebagian besar adalah musisi.
Namun sekarang, tidak jarang tulisan musik di media massa cetak ditulis oleh mereka yang tidak suka dan kurang mengerti, atau terpaksa menulis musik. Ini tentu saja membuat kurangnya soul pada tulisannya. Dan selain wartawan musik itu sendiri, saya yakin kita masih kekurangan pengamat musik. Atau setidaknya, belum banyak yang muncul. Selain Bens Leo, masih ada nama-nama semisal Denny MR dan Remy Soetansyah untuk bicara soal musik populer. Suka Hardjana, Franki Raden, atau Harry Roesli untuk dijadikan narasumber musik kontemporer misalnya.
Soal apresiasi musik, apa yang dialami redaksi MUMU agaknya bisa dijadikan contoh. Nuansa musik yang sangat kental di tulisan-tulisannya jelas kentara sesuai positioningnya sebagai the one and only music tabloid ini. Saking kentalnya, tabloid ini tidak menyajikan tulisan lain di luar musik. Namun, karena masih dominannya penyuka musik yang hanya tertarik dengan sosok selebritis musisi (baca: bukan musikalitasnya), tulisan musik model ini ternyata dinilai tidak menjual untuk banyak orang.
Sebenarnya, kombinasi yang pas dari keduanya-sisi musikalitas dan selebritis-adalah apa yang dibutuhkan oleh majalah musik. Namun, sebelum menemukan majalah musik yang seperti itu, kita harus puas dengan hadirnya majalah-majalah musik yang beredar dewasa ini untuk mendapatkan informasi musik. Semoga saja majalah-majalah itu tidak mengalami nasib seperti majalah musik lainnya.
Kita lihat saja nanti.

Selanjutnya:
Create a Link
<< Home